HukumNews / BeritaTrending News

WASPADA..!! ada 3.000 Titik di Jawa Barat berpotensi Longsor di Akhir Tahun 2019

Kurang lebih 3.000 titik di daerah Jawa Barat bagian selatan dan tengah memiliki risiko gerakan tanah.

Akhir tahun 2019 menjadi tahun kewaspadaan bagi hampir dua pertiga wilayah Jawa Barat yang memiliki risiko gerakan tanah. Warga di wilayah itu diminta lebih mengenali karakter tanah dan jalur air di lingkungannya untuk mengantisipasi longsor dan mereduksi risiko jatuh korban.

Lokasi dengan aktivitas manusia yang tinggi, seperti fasilitas umum dan perumahan, perlu melihat kondisi tanahnya karena daerah dengan alih fungsi lahan cenderung tidak stabil. Apalagi, daerah tersebut memiliki kemiringan yang menyebabkan air mengalir dan mengikis tanah tempat berpijak.

Karena itu, selain daerah-daerah yang dianggap berpotensi tersebut, pada umumnya daerah yang menjadi jalur air berpotensi gerakan tanah, tergantung komposisi tanah keras dan tanah lunaknya. Karena itu, setiap warga diimbau waspada saat terjadi hujan deras yang membebani tanah.

”Daerah-daerah rawan ini perlu direlokasi sesuai arahan pemerintah. Namun, jika memang tidak bisa direlokasi, warga di daerah rawan longsor perlu mengamati lingkungan sekitar. Kalau memang berada di bawah perbukitan, upayakan bentuk jalur air yang ada diarahkan menjauh dari permukiman,” tuturnya.

Data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, terdapat lebih kurang 3.000 titik di Jawa Barat bagian selatan dan tengah yang memiliki risiko gerakan tanah. Selain itu, banjir juga dikhawatirkan melanda kawasan bantaran sungai Citarum, terutama di kawasan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Dari hitungan tersebut, bencana terbanyak berasal dari gerakan tanah atau longsor sebanyak 468 kejadian, lalu kebakaran lahan dan hutan sebanyak 369 kejadian. Pada posisi berikutnya, ada kebakaran rumah 330 kasus. ”Antisipasi bencana hidrometeorologi ini akan kami maksimalkan. Kami akan melakukan pendampingan terhadap BPBD kabupaten dan kota yang memiliki peralatan dan logistik,” ujarnya.

Peneliti dari Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Yan Firdaus Permadhi, menjelaskan prediksi sebaran daerah berpotensi banjir saat musim hujan di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/11/2019).

Menurut peneliti Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Yan Firdaus Permadhi, angin kencang berpotensi terjadi pada musim hujan. Angin kencang ini terjadi saat pembentukan awan hujan atau awan kumulonimbus (CB) yang menyebabkan angin mengalir dari langit ke permukaan tanah.

”Kawasan di bawah awan CB biasanya sudah gelap. Jika pucuk awan CB yang diamati sudah condong, berarti ketinggiannya mencapai stratosfer. Awan seperti ini yang perlu diwaspadai karena akan memberikan dampak yang besar, seperti angin beliung hingga badai petir,” tuturnya.

Selain badai dan puting beliung,  hujan yang singkat, tetapi deras perlu diwaspadai. Hujan dengan sifat seperti ini cenderung memberikan dampak destruktif karena tanah tidak mampu menahan aliran air yang jatuh.

www.jarrakposjawa.com/Botski

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close