Uncategorized

Rapid Test Indonesia Gagal Faham

WWW.JARRAKPOSJAWA.COM

Mengambil sebuah penjelasan sederhana dari pemilik akun twitter @Fatwa_Adikusuma, Jarrakposjawa.com ingin menyampaikan kesederhanaan penjelasan mengenai Rapid Test yang tengah marak di Indonesia. Sebab kesalahan interpretasi berakibat konyol.

Perlu kita ketahui bersama bahwa pengertian Rapid Test adalah metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus Corona.

Ada banyak ketimpangan yang terjadi dalam medis Rapid Test di INDONESIA.
gambaran sederhananya.

Baegini cara indonesia menggunakan spesimen darah (whole blood) yang diambil dari pembuluh darah vena atau pembuluh kapiler (yang bergantung pada kit) waktu test yang dilakukan butuh waktu 10-15 menit.

Sedangkan Amerika menggunakan spesimen swab nasofaring (hidung) dn orofaring (tenggorokan) waktu test berkisar – 6 jam, hasil konfirmasi muncul dalam 1-2hari.

Sebagai ibarat, mari kita bentuk kesepakatan bahwa virus (penjahat) dan antibodi (polisi). Jika kita lihat polisi di TKP, itu artinya ada beberapa macam. Yang pertama, penjahat masih disitu dan sedang diamankan polisi. Kedua, penjahatnya sudah di penjara, dan polisinya masih olah TKP di lokasi tersebut. Ketiga, penjahatnya sedang beraksi, tapi polisi belum datang. Sehingga dalam kasus yang ketiga ini, polisi (antibodi) tidak terdeteksi padahal penjahat sedang meraja lela. Sederhananya Rapid Test ini digunakan untuk mendeteksi polisi (antibodi).

Bisa diambil kesimpulan bahwa orang yang Rapid Test-nya POSITIF, bisa memiliki arti orang tersebut sudah sembuh dari infeksi virusnya. Ibarat penjahat sudah dipenjara, tapi polisi masih olah TKP.

Dan orang dengan hasil Rapit Test NEGATIF, bisa jadi orang yang sedang terinfeksi tapi antibodinya belum muncul. Ibarat penjahat sedang beraksi, tapi polisinya belum datang.

Nah disitulah ketidakakuratan Rapid Test. Dengan begitu Rapid Test tidak bisa dijadikan alat yang mendiagnosis apakah seseorang sedang terinfeksi atau tidak. Untuk keperluan diagnosis, kita harus mengetahui langsung ada atau tidaknya virus dengan mendeteksi keberadaan genetic material virusnya, yang saat ini menggunakan metode reserve transcriptase quantitative (real time) PCR, atau yang sering disebut dengan PCR saja, sederhanya test laboratorium.

Rapid Test lebih bermanfaat sebagai alat survey untuk mengetahui berapa banyak orang yang sudah pernah terinfeksi dalam sebuah populasi.

Ada sebuah studi dari universitas dan lembaga di Amerika Serikat yang menguji akurasi 10 produk Rapid Test yang berbeda covidtestingproject.org.

Salah satu hasil temuan mereka yaitu bahwa alat-alat Rapid Test ini paling optimal mendeteksi antibodinya setelah 3 minggu dari munculnya gejala (demam, batuk dsb) pada orang yang terinfeksi. Yang artinya deteksinya paling akurat justru ketika orang yang sudah sembuh dari infeksi.

Penemuan menarik lainnya dari studi tersebut adalah ternyata sebagian besar alat-alat Rapid Test yang mereka uji, memiliki akurasi bervariasi.

Rata-rata alat tersebut memiliki sekitar 80-90% sensitifitas ketika diuji pada waktu optimal. Artinya pada false negatif 10-20%. Misal, dari 100 orang yang seharusnya positif, 10-20 orang salah terbaca dan dan terdeteksi negatif oleh produk-produk ini.

Penemuan yang paling penting yaitu uji spesifisitas, untuk mengetahui tingkat false positive. Dari 10 produk yang diuji, hanya ada 2 merk yang memiliki tingkat spesifisitas 99-100%. Sisanya memiliki tingkat spesifisitas 84-98% atau false positive 2-16%, yang artinya dari 100 orang yang seharusnya negatif, 2-16 orang salah terbaca dan terdektesi positif.

Dari Rapid Test di DKI ada sekitar 4% partisipan dengan hasil positif (27/4/2020). Kalau alatnya memiliki false positive 4%, bagaimana kita menginterpretasikan data tersebut ? Bisa jadi 4% warga yang positif karena alat yang salah baca.

Padahal yang positif (kalau hasilnya akurat), mestinya bersyukur karena sudah terinfeksi dengan keadaannya baik-baik saja. Malahan sudah sembuh atau sedang menuju kesembuhan. Dan kedepannya memiliki peluang kecil untuk terinfeksi kembali karena antibodinya sudah terbentuk.

Sebagai wacana, di USA, orang dengan Rapid Test Positif justru dapat pasport kebal, alias dianggap sudah sembuh dan aman untuk kerja kembali. Kemungkinan untuk terinfeksi kembali rendah sebab antibodi sudah terbentuk.

Di Indonesia malah kebalikannya. Yang Rapid Testnya Positif, dilanjutkan tes PCR, isolasi dan diperlakukan seperti orang yang sakit.
Benarkah penerapan Rapid Test di INDONESIA ? Sudah sesuai tidak dalam standaritas Diagnosa ?

Penulis : Salman S.H.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close