Uncategorized

PUASAKU, PUASA ANDA, PUASA KITA

Dalam ajaran Islam, puasa dikenal sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan segudang pahala dan hikmah-hikmahnya. Bahkan dalam Hadits Qudsi dijelaskan bahwa Allah sendirilah yang akan mengurus langsung pahala orang-orang yang berpuasa. Oleh karena itu, tentunya rugilah orang-orang yang berkesempatan untuk melaksanakan ibadah puasa, akan tetapi tidak mengambil kesempatan tersebut, padahal kita memiliki waktu dan kesempatan untuk melaksanakannya, lebih-lebih puasa yang telah diwajibkan kepada kita umat Islam.

Bukan hanya sekedar di bulan Ramadhan, diluar bulan ramadhan dalam sepanjang tahun juga ada hari-hari yang mempunyai kelebihan dan di-sunnah-kan untuk melaksanakan puasa, seperti misalkan pada hari senin, kamis dan jum’at yang bisa dilakukan setiap minggu, atau bisa juga melaksanakan puasa di awal, pertengahan, dan akhir bulan. Namun masih banyak hari-hari lain yang juga memiliki kelebihan dan di-sunnah-kan untuk melaksanakan puasa, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah.

Dalam ajarannya, puasa dilaksanakan selain untuk beribadah, puasa juga melatih diri untuk selalu menahan dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah dikarenakan kita tak kuat untuk tidak menuruti hawa nafsu. Hingga tidak heran jika Rasulullah menganjurkan bagi kita yang tidak kuat untuk menahannya maka disarankan untuk berpuasa saja, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw :
“dan barang siapa di antara kalian yang tidak mampu( menahan nafsu) hendaklah dia berpuasa, itu akan menjadi tameng baginya”(muttafaq ‘alaih).
Dalam hadits lain Rasulullah Saw juga bersabda :
اِنَّمَا الصَّوْمُ جُنَّةٌ فَاِذَا كَانَ اَحَدُكُمْ صَاِئمًا فَلَايَرْفُثْ وَلَايَفْسُقْ وَلَايَجْهَلْ فَاِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ اَوْشَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ اِنِّيْ صَائِمٌ
Sesungguhnya puasa itu menjadi tameng (benteng), maka jika kalian berpuasa maka janganlah berbuat kejahatan dan jangan berbuat fasik dan jangan (pula) bertindak bodoh. Jika ada orang yang ingin membunuhmu atau mengolok-olokmu maka katakanlah (padanya) sesungguhnya aku (sedang) berpuasa.

Menahan hawa nafsu memang merupakan hal yang sangat berat dan sulit untuk dilakukan, sehingga dalam hal ini Rasul menyampaikan bahwa melawan hawa nafsu adalah bagian dari jihad yang paling utama , sebagaimana sabdanya:
اَفْضَلُ الْجِهَادُاَنْ يُجَاهِدَ الرَّجُلُ نَفْسَه وَهَوَاهُ رَوَاهُ الشَّيْخَانُ
Jihad yang terutama, ialah jihadnya seseorang terhadap dirinya sendiri dan hawa nafsunya
(H.R.Bukhari, Muslim)

Ibnu Athaillah dalam kitab al Hikam juga menyampaikan bahwa :

Pangkal segala kemaksiatan, kelalaian dan syahwat, adalah karena (si hamba) rela mengikuti nafsunya. Sedangkan pangkal dari segala ketaatan, kesadaran, kebaikan pekerti (iffah), adalah karena ketidak relaan Anda mengikuti kemauan nafsu.

Oleh karena itu kita harus berhati-hati dengan nafsu dan berusaha untuk selalu melawannya agar tidak terjerumus kedalam kemaksiatan ataupun hal-hal yang tidak di-ridhai oleh Allah SWT.
Kiat-kiat dan anjuran untuk selalu melaksanakan puasa adalah hal yang sangat memungkinkan untuk melatih nafsu kita agar tidak terjerumus pada perbuatan yang melanggar norma-norma, baik norma sosial, hukum, lebih-lebih agama. Apalagi jika kita hidup disebuah lingkungan yang sangat majemuk dan plural, karena biasanya orang yang hidup dilingkungan dengan masyarakat yang berwarna dibutuhkan kebiasaan untuk menerima keadaan lingkungan sekitar dengan segudang perbedaan dan permasalahannya.

Puasa memang hal yang selalu menarik untuk dibicarakan, karena selain memiliki nilai pahala yang luar biasa, puasa juga dipandang sebagai media dalam meningkatkan iman dan takwa serta melatih diri kita untuk kuat menahan godaan hawa nafsu, lebih-lebih pada bulan ramadhan dimana puasa dibulan ini adalah menjadi kewajiban bagi setiap muslim, maka oleh karenanya siapapun yang beragama islam tidak boleh tidak dituntut untuk melaksanakan sebulan penuh selama bulan ramadhan pada waktu siang harinya.

Di Indonesia sebagaimana kita mafhum, bahwa kita hidup di lingkungan yang sangat majemuk dan plural, tidak seperti di negara-negara yang sudah secara masif melaksanakan aturan-aturan yang mendukung semua kegiatan ibadah umat islam yang berada di negara tersebut. Sehingga dengan aturan yang ada, umat islam bisa melakanakan ibadah dengan tenang dan tumakninah.
Berbeda dengan di Indonesia, dibutuhkan kesabaran dan kesadaran lebih serta sikap toleransi yang tinggi dalam hidup sosial dan beragama, mengingat banyaknya perbedaan diantara masyarakat kita.

Dengan adanya perbedaan keyakinan dan agama yang sangat beragam, maka kita harus menyadari bahwa di lingkungan seperti ini dalam kehidupan nyata, kita akan banyak menemui tindakan dan realiatas yang tidak sesuai dengan harapan kita, semisal masih banyaknya warung makan buka disiang hari, yang masih tetap melayani para pembeli dan bahkan makan di warung tersebut. Namun dengan kondisi seperti ini, bisa jadi puasa kita akan memiliki pahala lebih dan bisa jadi ketahanan kita dalam melatih hawa nafsu akan lebih kuat karena tantangannya juga lebih berat dibandingkan dengan tempat-tempat atau lingkungan yang tidak banyak di temukan hambatan dan godaan.

Sebagai muslim yang sedang melakukan puasa, tentunya mau tidak mau kita akan merasa terganggu, namun yang perlu disadari bahwa tidak semua masyarakat beragama islam atau bahkan tidak semua orang memiliki keimanan yang cukup untuk sekedar menahan diri dengan tidak berjualan makanan disiang hari yang akan mengganggu kegiatan orang yang sedang berpuasa, atau jangan-jangan mereka memang masih sangat membutuhkan untuk mengais rejeki dengan memanfaatkan para pembeli yang memang sangat membutuhkan makanan disiang hari, semisal para musafir ataupun orang-orang non muslim yang memang tidak diwajibkan untuk berpuasa. Begitu pula masih bukanya tempat-tempat usaha yang dikategorikan memiliki unsur ma’siat terkadang juga menjadi persoalan tersendiri bagi umat Islam yang sedang melaksanakan puasa.

Sebagai muslim sejati, seharusnya kita tidak akan terganggu dengan semua hal tersebut, karena ibadah puasa memang untuk melatih kita dalam menghadapi ujian-ujian hawa nafsu yang terkait dengan semua hal yang menjadikan penyebab batalnya puasa kita.

Bagi umat Islam yang memang bersungguh-sungguh dan punya niatan yang mantap untuk benar-benar berpuasa, tentunya semua itu tidak akan menjadi persoalan bahkan akan dijadikan tantangan untuk lebih menyempurnakan ibadah puasanya. Karena dengan keyakinan dan ketakwaan yang kita miliki, maka kita tidak akan pernah goyah dengan semua tantangan dan rintangan yang dihadapi.

Memang kemampuan manusia dalam melaksanakan kewajiban ibadah ada tingkatan-tingkatannya sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Imam Al Ghazali membagi tingkatan puasa seseorang menjadi tiga tingkatan .

Yang pertama, puasanya orang awam (orang kebanyakan), dimana puasa ini hanya dilakukan dengan menahan makan, minum dan menjaga kemaluan dari godaan shawatnya saja. Menurut al Ghazali ini adalah tingkatan puasa yang paling rendah

Yang ke dua, puasanya orang khusus, yaitu puasa yang selain menahan diri dari makan,minum dan godaan syahwat. Juga masih menahan diri dari pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa. Dan puasa ini adalah puasanya orang-orang shaleh.

Dan yang ke tiga, adalah puasa Khususnya orang yang khusus, yaitu puasanya hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT. Selain itu juga melakukan puasa hati dari pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah SWT. Menurutnya tingkatan puasa ini adalah tingkatan puasanya para nabi, shiddiqiin, dan muqarrabin.

Pandangan Al-Ghazali tentang tingkatan puasa seseorang tentunya menjadi bahan telaah buat kita semua, bahwa setiap orang memiliki tingkatan puasanya masing-masing tentunya dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh seseorang, dan kita semua tidak bisa memaksakan tingkatan puasa orang lain seperti puasa yang kita lakukan.dan yang paling penting untuk kita sadari bahwa sesungguhnya tidak ada yang tahu sebetulnya kita berada pada tingkatan yang mana? Wallahu ‘a’lam, hanya Allah yang berhak menilai puasa yang kita lakukan. Semoga saja puasa kita akan mendapatkan nilai yang terbaik disisi Allah SWT.

Apapun tingkatan puasa yang bisa AKU lakukan, yang bisa ANDA lakukan yang terpenting adalah bagaimana puasa yang KITA lakukan mampu menjadikan kita sebagai muslim yang lebih baik, yaitu dengan meningkatnya rasa keimanan dan ketaqwaan. sehingga puasa yang dilakukan betul-betul membawa pada peringkat muslim yang lebih baik dalam pandangan Allah SWT. Dan yang perlu dipahami bahwa segala kebaikan dan peningkatan keimanan kita tidak lepas dari hidayah dan pertolongan Allah SWT, oleh karenanya maka satu-satunya jalan hanya berupaya menjadi lebih baik, memohon petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT. Kalau Allah sudah akan membuat kita sesat, maka tidak ada satupun yang dapat memberi petunjuk (selain Allah), dan apabila Allah Sudah memberikan Petunjuk, maka tidak akan ada satupun yang dapat membuat kita sesat (selain Allah).

Penulis :
Hamdun Rizal Amir, S. Pd. I

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close