Uncategorized

Masih Takut Corona ?

Seperti yang kita ketahui bersama, maraknya berbagai upaya pencegahan pandemi Covid-19 menyebabkan segala rutinitas dihentikan total. Mulai dari ibadah jamaah fardlu di masjid, hingga segala macam kajian ilmu ditiadakan. Namun tidak bagi pemuda santri Madura yang dikenal kuat akan keislaman dan fanatisme agama. Terlebih Kabupaten Sampang, tercatat dalam sejarah panjang, tidak ada tempat peribadatan didirikan selain masjid. Hal ini menjadi barometer kekuatan beragama dalam memeluk agama Islam.

Semangat warga Kecamatan Torjun, Sampang Madura. Meski ditengah maraknya kabar Virus Corona tidak menghentikan kegiatan mulia “Menuntut Ilmu”. Di pelopori oleh santri, mahasiswa bahkan masyarakat ikut serta mengenyam ilmu. Hal tersebut mencerminkan tidak surutnya keimanan para santri meski telah gembar-gembor dilarangnya ini dan itu akan keberadaan Virus Corona diberbagai kota bahkan negara.

Rutinitas Ngaji Kitab Al Hikam di bulan Ramadhan yang diadakan oleh Masjid Al Jihad Gelisan Kecamatan Torjun Sampang, di mulai pukul 15.00 WIB setiap harinya. Kajian ilmu ini diisi oleh Alumni Universitas Al Ahqaf Yaman, Miqdad Arifin. Kajian keilmuan ini dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari kalangan mahasiswa dan santri hingga pejabat daerah.

Masjid Al Jihad Gelisan telah memberikan banyak kontribusi keilmuan bagi masyarakat. Penguatan akidah, pengembangan hukum syar’i, dan berbagai kegiatan agama yang bisa diandalkan masyarakat sebagai pedoman akidah.

Tak lupa melibatkan mekanisme protokol pencegahan Covid-19, tak menyurutkan antusiasme jamaah kajian keilmuan. Kajian keilmuan oleh Miqdad Arifin juga ditayangkan live IG @almadanist.

Mari kita simak pernyataan Alumni Mahasiswa Timur Tengah yang menggetarkan hati.

“Kami mengadakan rutinitas harian sampai 1 bulan kedepan ramadhan ini. Semata-mata untuk meningkatkan keimanan kita dalam menuntut ilmu kapada Allah SWT. Tak pantang surut mundur kebelakang hanya dengan adanya virus mematikan yg tak kasat mata, kami di Timur Tengah Universitas Al Ahqaf Yaman, sudah terlatih dalam teror,” jelas Miqdad Arifin pengisi Kajian Al Hikam.

“Bom, Meriam Caesar 155M, Rudal, Jet Tempur, Peluru, menjadi bunyi familiar bagi kami di Yaman, Hal biasa kita nikmati” lanjutnya.

“Jangankan teror penyakit, teror perang sekalipun, tidak memalingkan pandangan kami kepada perintah Allah. Pada prinsipnya kita beragama tidak hanya ikut-ikutan, melainkan meng-imani bahwa yang mematikan dn menghidupkan kita ialah Allah SWT. Kalaupun sekarang mati, maka matilah. Kalaupun sekarang saya hidup, maka hiduplah. Semua sudah menjadi ketentuan Allah. Manusia bisa apa,” tegasnya.

Manusia tidak tau apa-apa. Allah yang mengatur semuanya, namun yang terjadi saat ini, kita berkata beriman pada Allah tapi sekuler, hanya dalam tindakan. Berperilaku selayaknya orang tidak punya Allah. Apa kita tidak malu kepada-Nya.

Ditengah Pandemi Virus Corona ini, ikhtiar boleh dan baik kita lakukan. Tapi jika itu hanya membuat iman kita menipis, berpaling dari Allah, mengabaikan perintah Allah, bahkan lebih takut pada virus ketimbang Adzab Allah. Sumanaudubillah lebih baik perut bumi daripada permukaan bumi. Lebih baik kita mati berkalang tanah ketimbang terlalu latah takut selain kepada-Nya.

Pernahkah kita berfikir saat ini banyak fitnah bergejolak, masjid sudah dianggap tempat mematikan dan membunuhmu.

Perlu kita kaji bersama “Masjid adalah rumah Allah SWT.”

Dalam Q.S. al-Taubah ayat 18 Allah SWT. berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Larangan beribadah jamaah dan tidak diperbolehkan menyambung silaturahmi. Bukankah Nabi Muhammad saw. telah menegaskan dari Anas bin Malik ra, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Barangsiapa yang suka diluaskan rezekinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim” (HR. Bukhari)

Kebodohan apa ini. Apa kita masih tidak berfikir ? Pangkasnya.

Penulis : Salman Alfarisi S.H.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close