Uncategorized

Jumantik Pemkot Surabaya, Upaya Penanggulangan Wabah DBD

Surabaya – Pemkot Surabaya melakukan kegiatan Jumantik secara serentak di semua kelurahan se Kota Surabaya. Dalam setiap kegiatan Jumantik selalu di hadiri oleh dinas terkait, seperti Dinas Kesehatan dan petugas Puskesmas setempat. (21/02)

Jumantik adalah orang yang ditunjuk dan diberi tugas untuk memantau jentik nyamuk dari rumah ke rumah. Jumantik yaitu singkatan dari Juru Pemantau Jentik adalah petugas khusus yang berasal dari lingkungan sekitar yang secara sukarela mau bertanggung jawab untuk melakukan pemantauan jentik nyamuk DBD atau aedes aegypti di wilayah sekitarnya, serta melaporkan ke kelurahan secara rutin dan berkesinambungan.

Kegiatan Jumantik yaitu melakukan pengecekan tempat-tempat penampungan air dan tempat yang dapat tergenang air bersih, apakah ada jentik dan sudah tertutup rapat. Untuk tempat air yang sulit dikuras diberi bubuk larvasida seperti abate. Membasmi keberadaan kain atau pakaian yang tergantung di dalam rumah. Mengecek kolam renang dan kolam ikan agar bebas dari jentik nyamuk.

Jumantik harus mendapatkan pelatihan khusus jumantik dan tinggal di dekat wilayah pantau jentik nyamuk DBD. Pemantauan dilakukan sekali dalam seminggu yaitu setiap jumat pagi hari. Jika ditemukan jentik nyamuk maka petugas berhak memberi peringatan kepada penghuni atau pemilik rumah untuk membersihkan atau menguras genangan air agar bersih dari jentik.

Jumantik lalu membuat catatan dan laporan yang diperlukan untuk dilaporkan ke kelurahan dan kemudian dari kelurahan dilaporkan ke instansi terkait atau vertikal. Selain petugas jumantik (juru pemantau jentik), orang yang tinggal di sekitar suatu wilayah wajib juga melakukan pengawasan/pemantauan jentik di wilayahnya (self jumantik) dengan tehnik dasar minimal 3M yaitu Menguras, Menutup Dan Mengubur.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Febria Rachmanita mengatakan, program jumantik serentak terbukti berperan untuk mencegah terhindarnya masyarakat dari Demam Berdarah. Ini terbukti pada angka masyarakat Surabaya yang terserang DBD di tahun 2019 yang turun menjadi 277 kasus dibanding tahun 2018.

“Kami melakukan pendampingan dan monitoring gerakan jumantik serentak di Surabaya oleh 22.995 orang kader jumantik di bawah koordinasi puskesmas, camat dan lurah,” tambahnya.

Upaya penanggulangan DBD ini tertuang dalam Surat Edaran Walikota Surabaya yang berpedoman pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 1501/MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangannya.

penulis : umar faruq

editor : salman

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close